Pekalongan – Antisipasi Banjir, BPBD Kota Pekalongan Kerahkan Tim Pembersih Sungai Tiap Hari. Menjelang puncak musim penghujan, BPBD Kota Pekalongan meningkatkan kewaspadaan dengan mengerahkan tim khusus untuk membersihkan sungai setiap hari.
Langkah ini dilakukan guna memastikan aliran air tetap lancar dan mencegah potensi banjir di wilayah kota. Kalakhar BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto menyampaikan bahwa pembersihan dilakukan oleh tim pekarya sungai yang beranggotakan sembilan orang dan berada di bawah koordinasi langsung BPBD.
Tim tersebut bertugas membersihkan eceng gondok dan sampah di aliran Sungai Bermi, yang menjadi salah satu jalur utama aliran air di Kota Pekalongan. “Mereka bekerja setiap hari mulai pukul 07.00 hingga pukul 12.00. Fokusnya membersihkan eceng gondok yang menutupi permukaan sungai agar aliran air tidak terhambat,” ujar Budi, Kamis (30/10/2025).
Menurutnya, pembersihan sungai dilakukan secara bergilir dan berkelanjutan. Selain BPBD, dinas lain seperti DPUPR, DLH, dan Dinperkim juga memiliki tanggung jawab terhadap sungai-sungai lain di Kota Pekalongan. Namun penanganan dilakukan secara terpadu agar hasilnya lebih maksimal.
“Kami sudah bagi peran antar dinas, tapi prinsipnya tetap gotong royong. Kalau ada titik darurat, semua instansi turun tangan bersama,” jelasnya. Selain melakukan pembersihan sungai, BPBD juga menyiagakan tim pemantau tanggul selama 24 jam, terutama di titik-titik rawan seperti Sungai Meduri.
Baca Juga : Hapus Praktik Percaloan, Satlantas Polres Pekalongan Sosialisasikan Cara Resmi Ambil BPKB

Pemantauan ini dilakukan secara koordinatif dengan BPBD Kabupaten Pekalongan mengingat beberapa titik rawan berada di perbatasan dua wilayah administrasi. “Ketika tanggul jebol di wilayah kabupaten, dampaknya langsung terasa di kota. Karena itu kami tangani bersama tanpa melihat batas administrasi,” tambahnya.
Budi menuturkan, Pemkot Pekalongan juga telah mengajukan proposal bantuan penguatan tanggul ke Kementerian PUPR. Pengajuan tersebut diharapkan dapat terealisasi pada akhir 2025 sehingga penguatan struktur tanggul bisa segera dilakukan. “Kami berharap bantuan ini segera disetujui agar penanganan banjir lebih optimal.”
“Dengan pembersihan rutin, pemantauan siaga dan kerja sama lintas daerah, kami berkomitmen menjaga agar aliran sungai tetap lancar serta masyarakat aman dari banjir,” pungkasnya. Jaya Negara menambahkan, seluruh pekerjaan drainase tidak hanya berfokus pada tampilan cantik di luar atau permukaan, tetapi mengutamakan fungsi utama yakni kelancaran aliran air dan pencegahan banjir.
Menurutnya, banyak pekerjaan drainase yang dilakukan dengan pola kerja kurang tepat. Dan hal ini berpotensi menghambat efektivitas pengendalian banjir.
Jaya Negara menyoroti bahwa dalam beberapa kasus, pekerjaan dilakukan dengan cara menutup saluran terlebih dahulu tanpa memastikan bagian bawahnya benar-benar dibersihkan atau dinormalisasi.
“Sekarang banyak yang sudah ditutup, padahal prosesnya belum selesai. Alasannya karena posisi manhole-nya. Manhole jaraknya sekitar empat meter, jadi mereka masih kerja dengan cara menarik dari lubang itu. Tapi, menurut saya, itu dua kali kerja. Harusnya bersih dulu baru ditutup. Itu lebih efektif,” jelasnya.





