, ,

Ketika Bahasa Isyarat Menjadi Warna, Difabel Pekalongan Belajar Membatik untuk Mandiri

oleh -421 Dilihat

Pekalongan – Ketika Bahasa Isyarat Menjadi Warna, Difabel Pekalongan Belajar Membatik untuk Mandiri. Di sebuah ruangan sederhana di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, sejumlah penyandang disabilitas tampak tekun memegang canting dan mencelupkan ujungnya ke malam panas.

Dengan penuh kehati-hatian, mereka menggoreskan cairan malam itu di atas kain biru muda yang terpangku di pangkuan mereka pada Selasa (7/10/2025). Mereka adalah peserta pelatihan batik inklusif yang digagas Rumah Batik TBIG (Tower Bersama Infrastructure Group) bekerja sama dengan Koperasi Bangun Bersama.

Program yang berlangsung di Rumah Batik TBIG ini menjadi wadah belajar sekaligus ruang ekspresi bagi para peserta untuk menumbuhkan kepercayaan diri melalui karya batik bernilai ekonomi.

Sebagian besar peserta pelatihan merupakan penyandang disabilitas rungu (tuna rungu) yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap dunia kerja dan pelatihan keterampilan. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya belajar membatik, tetapi juga menemukan ruang untuk berdaya dan percaya pada kemampuan sendiri.

Berkomunikasi melalui bahasa isyarat Saat itu, suasana di dalam ruangan terasa hening. Tak ada suara bising, hanya bahasa tubuh dan senyum yang menjadi penghubung. Sesekali mereka saling berisyarat dan mengucap tanpa suara, menjadi sebuah bentuk komunikasi hangat di tengah kesunyian.

Di tengah suasana yang tenang itu, pelatihan tetap berlangsung dengan penuh semangat. Trainer di Rumah Batik TBIG sekaligus pengajar kelas difabel, Akmad Faisal, mengatakan pelatihan dilakukan secara intensif dengan metode yang disesuaikan dengan kemampuan komunikasi dan kondisi fisik para peserta. “Anak-anak difabel ini kami bimbing agar bisa mengenal teknik dasar membatik, mulai dari mencanting, mengecap, hingga pewarnaan,” ujarnya saat berbincang bersama Kompas.com, Selasa. “Komunikasi kami lakukan dengan bahasa isyarat sederhana atau teks melalui HP,” sambungnya.

Dalam kegiatan ini, para peserta dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas reguler dan kelas inkubasi. Total, peserta pelatihan mencapai 35 orang. “Untuk program ini, anak-anak menjalani dua semester pelatihan. Satu semester terdiri dari 20 kali pertemuan dengan durasi sekitar dua jam setiap sesi,” tutur Akmad.

Ia menambahkan, program pelatihan ini bersifat gratis dan terbuka untuk umum, terutama bagi siswa SLB serta masyarakat sekitar yang ingin belajar membatik.

“Cukup daftar lewat formulir di tempat. Karena kebanyakan anak-anak difabel masih sekolah, jadwal kelas kami buat sore hari, antara pukul 13.00 hingga 15.00,” jelasnya. Selain difabel, peserta juga datang dari berbagai latar belakang pendidikan, termasuk siswa SMK dan mahasiswa jurusan batik di Pekalongan. Menurut Faisal, kolaborasi lintas latar belakang ini justru memperkaya proses belajar karena para peserta bisa saling membantu dan berinteraksi.

Dari latihan hingga produk bernilai jual Menariknya, hasil karya para peserta tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipasarkan melalui koperasi. Produk yang dihasilkan bervariasi, mulai dari kain batik hingga produk non-sandang seperti totebag dan pouch bermotif batik.

Baca Juga : Hanya Rp130 Jutaan Bisa Punya Rumah di Kota Pekalongan, Ini Daftarnya

Ketika Bahasa Isyarat Menjadi Warna
Ketika Bahasa Isyarat Menjadi Warna

“Untuk anak-anak difabel, kami arahkan membuat produk kecil karena keterbatasan komunikasi dan tenaga,” ujar Akmad. “Kalau batik ukuran dua meter itu mereka cepat lelah. Jadi kami buat produk kecil yang lebih ringan, tapi tetap bernilai jual,” tambahnya. Beberapa hasil karya peserta telah dipamerkan dalam berbagai kegiatan dan dipasarkan melalui jaringan koperasi maupun pameran lokal.

Dalam proses pelatihan, pendekatan yang digunakan tidak bersifat kaku atau menekan. Faisal mengungkapkan pentingnya suasana belajar yang santai agar anak-anak difabel tetap menikmati prosesnya. “Saya selalu bilang, kalau capek ya istirahat, mau main dulu juga boleh. Yang penting mereka tidak merasa tertekan. Tujuan utama kami bukan sekadar hasil, tapi agar mereka senang dan punya rasa percaya diri,” katanya.

Pendekatan humanis ini terbukti efektif menjaga semangat peserta. Mereka belajar tanpa tekanan, namun tetap produktif menghasilkan karya batik yang autentik dan indah.

Melalui program ini, Koperasi Bangun Bersama berharap dapat membuka jalan kemandirian ekonomi bagi para penyandang disabilitas di Pekalongan. “Harapan kami, anak-anak difabel ini nantinya bisa berdiri sendiri, punya penghasilan dari hasil karya mereka sendiri. Kami bantu dari sisi pelatihan dan pemasaran,” tutup Faisal.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.