, ,

Pemberdayaan Difabel Rungu: Rumah Batik Pekalongan Jadi Wadah Inklusif

oleh -483 Dilihat
oleh

Pekalongan – Pemberdayaan Difabel Rungu: Rumah Batik Pekalongan Jadi Wadah Inklusif. Sejumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Pekalongan mendapatkan kesempatan untuk mandiri secara ekonomi melalui pelatihan batik inklusif yang digagas Rumah Batik TBIG (Tower Bersama Infrastructure Group) bekerja sama dengan Koperasi Bangun Bersama.

Sebagian besar peserta kegiatan ini merupakan penyandang disabilitas rungu (tuna rungu) yang selama ini menghadapi keterbatasan akses dalam dunia kerja dan pelatihan keterampilan. Program pelatihan yang berlangsung di Rumah Batik TBIG, Kecamatan Wiradesa, ini menjadi wadah belajar dan berkarya bagi para peserta agar lebih percaya diri dalam menghasilkan karya batik bernilai ekonomi.

Menurut Akhmad Faisal, trainer di Rumah Batik TBIG sekaligus pengajar kelas difabel, metode pelatihan disesuaikan dengan kemampuan komunikasi peserta, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran. “Anak-anak difabel rungu ini kami bimbing mulai dari teknik dasar membatik seperti mencanting, mengecap, hingga pewarnaan. Kami berkomunikasi lewat bahasa isyarat sederhana dan tulisan,” ujar Akhmad Faisal.

Pria yang biasa disapa Faisal itu menuturkan, pelatihan dibagi menjadi dua kelas, yaitu reguler dan inkubasi. Sebanyak sembilan peserta tuna rungu mengikuti kelas inkubasi, sementara total peserta mencapai 35 orang. “Dalam satu semester, ada 20 kali pertemuan dengan durasi sekitar dua jam per sesi. Programnya gratis dan terbuka untuk umum, termasuk siswa SLB,” katanya.

Pelatihan ini sengaja digelar sore hari agar peserta yang masih berstatus pelajar bisa tetap mengikuti kegiatan tanpa mengganggu waktu sekolah. Selain tuna rungu, peserta pelatihan juga datang dari beragam latar belakang, termasuk siswa SMK dan mahasiswa jurusan batik di Pekalongan. Interaksi lintas kelompok ini menciptakan suasana belajar yang kolaboratif. “Mahasiswa bisa membantu menjelaskan teknik yang lebih rumit, sementara anak-anak difabel rungu sering menciptakan motif yang ekspresif dan orisinal,” ujar Faisal.

Baca Juga : Cerita UMKM Pekalongan Tembus Pasar Global Berkat Dukungan Ekosistem Digital Telkom

Pemberdayaan Difabel Rungu
Pemberdayaan Difabel Rungu

Setiap karya peserta tidak hanya dipamerkan tetapi juga dipasarkan melalui jaringan koperasi, sehingga memberikan peluang penghasilan bagi para peserta. Produk yang dibuat beragam, mulai dari kain batik hingga produk non-sandang seperti tas dan pouch bermotif batik. “Anak-anak difabel rungu kami arahkan membuat produk kecil agar mudah dikerjakan, tapi tetap punya nilai jual tinggi,” ucap Faisal. Selain mengasah keterampilan, pelatihan ini juga membantu para peserta membangun kemandirian dan semangat berkarya.

Faisal memastikan suasana belajar dibuat menyenangkan agar peserta tetap termotivasi. “Saya selalu tekankan, kalau capek istirahat dulu. Yang penting mereka senang, karena dari situ muncul semangat untuk terus belajar,” katanya. Kolaborasi antara Koperasi Bangun Bersama dan Rumah Batik TBIG ini diharapkan menjadi contoh pemberdayaan ekonomi inklusif di Pekalongan. Melalui batik, para penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu, tidak hanya dilatih membuat karya, tetapi juga didorong untuk berdaya dan mandiri.

Faisal menambahkan, tujuan utama dari program ini bukan hanya menghasilkan produk batik bernilai jual, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri peserta agar mampu berdiri di atas kemampuan sendiri. Ia berharap, teman-teman difabel rungu nantinya bisa memperoleh penghasilan dari karya batik yang mereka buat, dengan dukungan pelatihan dan pemasaran yang disediakan koperasi.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.